Berapa banyak orang yang awalnya bermain saja, tiba-tiba ketagihan judi? Bahkan, kita melihat seseorang yang hidupnya mapan, bahagia, karirnya sukses, memiliki pasangan yang cantik, pintar dan rajin tiba-tiba terbukti bahwa dia berselingkuh. Ini adalah kasus di mana seseorang mencari euforia yang akhirnya kebablasan dan menghancurkan hidup mereka. Mereka tidak merasa cukup dan terus mencari yang mereka anggap lebih baik atau yang terbaik untuk mereka.
Tentu saja membicarakan kehidupan orang lain lebih mudah. Keserakahan dalam hidup kita seringkali tersembunyi dan kita tidak sadari. Kita serakah akan hal-hal kecil yang kelihatan namun hanya berpengaruh pada diri kita dan perlahan-lahan kita akan masuk ke dalam hal-hal ekstrem. Contohnya ketidak-puasan dalam hal materi, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan sosial. Hal-hal sederhana ini lah yang bisa mengakibatkan banyak hal yang hari ini tidak mau dibahas yakni dosa/kesalahan/keburukan atau apapun itu. Bahkan kita melihat bahwa orang-orang yang memiliki pandangan yang sama bersatu dan menuntut agar hal-hal buruk tersebut dihapuskan atau tidak disebutkan demi menjaga kesehatan mental mereka.
Keserakahan, Salah Satu Dosa Maut yang Tersembunyi dan Mematikan
Pembahasan ini seringkali tidak nyaman, namun perlu diperhatikan bahwa banyak hal yang kita mengerti itu salah. Contoh kekayaan, kita melihat kekayaan adalah agar kita bisa hidup nyaman. Misal Warren Buffet, dia adalah orang yang menjadi kaya karena bermain saham. Maka kita akan mencoba bermain saham tanpa mengerti sejarah dan hal-hal yang dilakukan oleh Warren Buffet. Kita hanya tahu dan fokus 1 hal, dia jadi kaya dari saham. Kita belajar saham, berhasil menggandakan uang dan masuk ke euforia yang lebih dalam, lalu menjadi serakah. Setelah itu kita bermain saham lebih liar lagi dan akhirnya mengalami kebangkrutan yang besar dan tidak sedikit ada yang bunuh diri.
81,5 juta USD kekayaan Warren Buffet didapat setelah dia berumur 65 tahun. Sebelum itu kekayaan dia hanya 3 juta USD. Sudah, kita berhenti memproses informasi di sana dan berpikir "saya bisa kaya cepat dari saham". Padahal Warren Buffet belajar saham sejak dia berumur 10 tahun dan belajar sambil bekerja sampai dia berumur 65 tahun. 3 Juta USD maka dia dapat hidup pensiun dengan nyaman di umur 60 tahun, tapi dia tetap belajar. Anda tahu artinya apa? yang jelas ini bukan dedikasi, tapi obsesi dan kesabaran yang sangat gila.
Anda sekolah dari SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah 4 tahun. Selama 16 tahun bagaimana perasaan anda saat belajar? Saat anda sekolah, rasanya pingin libur saja dan tidak mau sekolah. Sekolah memuakan, gurunya mengajar dengan gaya yang sama selama bertahun-tahun. Belum lagi kalau ujian, maka saya harus belajar dan belajar pun belum tentu dapat nilai bagus. Tapi kita tidak bisa keluar dari sekolah karena orang tua kita memaksa. Kalau tidak ada paksaan orang tua, maka kita akan keluar dari siksaan yang menghantui kita setiap hari. Sekarang bayangkan ada orang, mempelajari materi yang sama selama 50 tahun. Maka saya bilang, ini bukan dedikasi tapi obsesi. Warren Buffet meski terlihat sederhana, dia adalah orang tua gila yang belajar dengan luar biasa dan hari ini dia meraup hasil dari obsesi belajarnya. Keserakahan kita membuat kita abai akan hal tersebut.
Kita sering melihat Jesse Livermore, yang bisa meraup untung luar biasa sebelum saham crash. Banyak orang mengutip dia dan ingin jadi seperti dia. Pada tahun 1907 dia berhasil meraup keuntungan 1 juta usd per hari dengan kemampuannya. Tapi tahukah anda bahwa dia mengalami kebangkrutan dalam 1908, 1915 dan 1934, serta berkali-kali depresi sehingga dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada 1940. Kita melihat keuntungan yang berhasil dibuat oleh Jesse Livermore dan gagal melihat akibat dari keserakahan yang dimiliki oleh Jesse Livermore.
Saat serakah, akhirnya akan ada informasi yang kita tidak lihat dan kita hanya melihat informasi-informasi yang diinginkan saja. Fenomena ini disebut confirmation bias dan sering dimanfaatkan oleh orang yang memanfaatkan keserakahan anda dengan memberi informasi palsu. Terutama dalam investasi bodong atau scam. Resiko-resiko disembunyikan secara terang-terangan namun anda tidak bisa membacanya. Biasanya hanya diberi tanda bintang(*) atau ditulis dalam terms and condition yang kita tak pernah baca atau dalam tulisan yang sangat kecil.
Dalam hal finansial, keserakahan sangat terlihat pada saat krisis finasial di 2008. Di mana semua berinvestasi secara liar dalam properti. Mereka berhutang untuk membeli properti, melakukan renovasi dan menjualnya. Namun sekali lagi, mereka hanya melihat dari sisi keuntungan saja. Mereka lupa ada hukum demand dan supply. Saat supply terlalu banyak dan demand sedikit, maka harga barang biasanya akan jatuh. Namun karena mereka berhutang + bunga bank, maka orang yang sudah invest akan mempertahakan harga jualnya. Beruntunglah mereka yang propertinya terjual dan orang-orang seperti ini hanya sangat sedikit. Sebagian besar sisanya, gagal bayar di bank dan bank menyita aset(properti)nya dan aset ini adalah aset yang tidak bisa diuangkan dengan mudah(Ingat demand dan supply). Sehingga bank juga tidak memiliki uang untuk diputar. Karena kredit macet(Bank tidak memiliki dana cair) dan lainnya maka perputaran ekonomi jadi makin susah sehingga terjadilah krisis finansial atau housing bubble.
Hidup Dengan Moto Semua Untuk Satu
Orang serakah hidup untuk diri dan segala sesuatunya untuk diri mereka. Hal ini dikarenakan dalam hati mereka ada yang kosong dan mereka berusaha mengisi kekosongan tersebut. Dalam kehidupan kita hari ini, saya melihat banyak orang ingin dengan yang namanya status. Saya tidak paham dengan hal ini, mengapa orang ingin dipandang baik dan dipuji-puji oleh orang lain. Namun hal ini ada di sekitar kita. Media sosial menjadi tempat untuk mepamerkan status dan semua ini hanya demi like atau pujian dari orang-orang yang tidak dikenal. Bahkan beberapa orang membuat konten-konten yang tidak jelas kebenarannya, selama hal itu bisa memberikan like dan memuaskan ego dan keserakahan mereka, akan mereka lakukan. Namun hal ini tidak hanya di media sosial, keserakahan banyak terjadi di hidup kita dalam berbagai bentuk.
Ada seorang yang penting datang ke kantor dan dia memberikan asesmen pada saya dan teman-teman saya. Kami disuruh mempersiapkan materi untuk presentasi dan memberikan presentasi sebaik mungkin. Kemudian ada salah satu orang yang memangku jabatan , sebut saja si A dan dia mengajukan diri untuk maju terlebih dahulu dan setelah memberikan presentasinya, asesor ini hanya mengatakan dia baik meskipun materinya berat dan susah diikuti. Dia merasa senang dan terlihat senyumnya lebih lebar. Kemudian, salah satu teman saya terpilih untuk maju presentasi berikutnya. Setelah dia memberikan presentasi, asesor terlihat sangat bahagia dan memuji dia bahwa penjelasannya sangat baik, materi yang sulitpun bisa dimengerti dengan mudah. Di saat yang sama, senyum si A langsung menghilang dari mukanya.
Setelah asesor tersebut pulang, saya merasa bahwa semua sudah lewat dan selesai. Ternyata saya salah. Si A, meskipun terlihat biasa saja. Dia menjadi seseorang yang terus mencoba membuktikan dia superior. Awalnya semua orang hanya mengira dia ambisius dan mencoba melakukan pekerjaan dia dengan baik. Namun dia mulai melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Dia berbohong pada orang lain, bermain menjilat dan merendahkan orang lain agar dia dipandang lebih baik dari orang lain. Kalau dibilang dia lebih baik, jelas dia lebih baik. Dia memangku sebuah jabatan dan kami hanya karyawan biasa. Namun kenapa dia melakukan hal-hal tersebut? Sekali lagi banyak hal yang kita mengerti itu salah atau kurang tepat. Ketika kita bilang serakah, maka kita kaitkan dengan uang. Sedangkan keserakahan tidak hanya uang. Si A serakah akan status, dia ingin lebih dipandang, dipuji dan tidak hanya itu, dia tidak ingin orang lain dipandang dan memiliki status lebih baik dari dia. Padahal seluruh kehidupan dia jauh lebih baik dari kami semua, namun bagi dia itu tidak cukup dan tidak ada satupun dari kami yang sebenarnya peduli kalau dia lebih baik. Kami semua melalui kehidupan kami seperti biasa dan tidak mengerti apapun sampai dia dengan lantang, terus-terusan menyatakan bahwa dia lebih baik dan segala sesuatunya tentang dia. Kami muak, kami makin tidak peduli dan sekarang kami mulai membicarakan dia dibelakangnya.
Apakah Keserakahan itu Baik?
Di sebuah sisi serakah itu bisa membuat efek yang baik, saya tidak bilang semua keserakahan itu pasti berefek baik. Pada kasus tertentu keserakahan menstimulasi perkembangan ekonomi dan menstimulasi produktifitas. Semisal ada perusahaan yang ingin menguasai pasar, maka dia akan melakukan riset, membuat produk dan bahkan pabrik baru, yang artinya akan ada lapangan pekerjaan baru. Termasuk apabila orang korupsi, maka dia akan mempunyai kemampuan menghamburkan uang sehingga ekonomi terus berjalan.
Namun apa yang terjadi apabila semua orang sama serakahnya dan sama-sama korupsi? Apakah perekonomian akan jauh lebih baik? Tentu tidak. Sistem perekonomian dan kehidupan masyarakat akan jatuh. Fasilitas yang dibangun akan menurun kualitasnya dan lama-kelamaan akan menghancurkan kepercayaan masyarakat dan kepercayaan satu dengan yang lain. Orang-orang yang jujur akan jadi korban. Saat tidak ada lagi orang benar dalam perusahaan tersebut, perusahaan tersebut adalah penipu paling besar dan pekerjaan mereka hanyalah menipu masyarakat, seperti efishery, investree, tanihub & tanifund dan theranos. Hal ini terjadi karena semua(satu perusahaan) sama-sama tahu bahwa perusahaan mereka busuk, mereka mengkorupsi uang yang dipercayakan pada mereka dan semua menikmati uang tersebut. Di sebuah perusahaan, di mana terjadi kekacauan seperti ini, salah satu ujung tombak adalah orang yang melakukan hal yang benar. Ketika orang ini hilang, dibungkam ataupun diasingkan, maka perusahaan akan terisi hanya orang-orang serakah yang menjilat kiri dan kanan untuk keuntungan diri tanpa kemampuan yang jelas.
Lalu jangan salah sangka bahwa keserakahan berasal dari orang lain, keserakahan asalnya dari diri sendiri. Hal ini berbeda dengan iri hati, saat saya mempelajari iri hati. Iri hati seringkali di picu oleh faktor eksternal dan mempengaruhi anda. Namun keserakahan dimulai dari diri sendiri yang tidak merasa cukup dengan hal yang diperoleh dan setelah memperolehnya tidak merasa puas sampai-sampai melakukan hal-hal tidak rasional(The irrationality of greed, 2021). Bayangkan anda serakah terhadap jumlah like dan follower dalam media sosial sehingga anda mengeluarkan uang untuk membeli like dan follower. Hal ini sangat tidak rasional, namun kenyataannya masih ada yang menjual dan ada yang membelinya. Jadi jangan bilang anda melihat orang lain dan akhirnya anda jadi serakah, hal tersebut tidak mungkin kecuali bibit serakah tersebut sudah ada di dalam hati anda.
Menetapkan Garis Akhir dan Memberi Batas
Di mana batas antara serakah dan tidak? Tentu saja batasnya di rasionalitas. Ketika anda ingin kaya, pertanyaannya adalah seberapa kaya? Ketika anda tidak bisa menjawab, maka anda harus mencoba berhenti dahulu dan menentukan batas akhir anda. Setelah itu baru anda coba pikirkan dan kejar target anda. Tanpa batas akhir, ketika anda mengejar, anda akan mengejar secara membabi-buta. Dan saat anda fokus mengejar anda akan melakukan semua tanpa batas, termasuk hal-hal yang tidak wajar atau secara blak-blakan, anda akan melakukan hal-hal jahat yang tidak dapat anda pikirkan hari ini selama hal tersebut memenuhi tujuan anda. Maka sebuah batas itu penting. Anda mencari uang, maka beri batas mencari sebanyak apa? Karna manusia ada batasnya. Maka saat ada influencer yang menulis anda harus mencari pekerjaan kedua, itu tidak masalah. Namun biasanya dia tidak menulis kelelahan yang mungkin terjadi, stress yang akan muncul dan resiko-resiko yang muncul saat anda mulai menjalaninya. Dia membuat konten yang memanfaatkan keserakahan kita dan kita tak berpikir rasional.
Lalu realitislah dengan kondisi anda. Misal anda ingin 1 Milyar, gaji anda 5 juta. Anda tidak mungkin menabung semua gaji anda, ada biaya hidup yang perlu biaya, ada kebutuhan mendadak. Jadi rencanakan dengan baik dan berikan batas. Misal biaya bulanan seperti air, listrik, belanja dan kebutuhan yang selalu ada tiap bulan 3,5 juta maka anda punya sisa 1,5 juta. Begitu awal bulan, langsung simpan 1 juta ke dalam instrumen investasi yang susah diambil. Sisanya gunakan untuk kesenangan anda. Anda hanya punya uang 500 ribu untuk bersenang-senang maka anda ketika ingin menggunakan uang tersebut anda harus berpikir.
Saya secara sengaja membuat rekening secara onsite, tidak mengaktifkan internet banking, mengaktifkan fitur autoinvest di bank tersebut lalu saya menekuk kartunya di depan teller. Teller kaget dan bertanya mengapa saya lakukan itu. Saya berkata bahwa saya membuat batas agar sangat susah menggunakan uang tersebut. Jadi satu-satunya cara agar saya bisa menggunakan uang tersebut adalah cara paling merepotkan, yakni dengan pergi ke bank, mengisi form penarikan uang dan memberikan ke teller. Akhirnya saya hanya akan mengambil uang tersebut apabila benar-benar terpaksa hingga saya berpikir bahwa kerepotan tersebut mau tidak mau harus saya jalani. Tujuan akhirnya adalah saat saya tiba-tiba menjadi serakah maka ada batasan dan penghalang yang besar. Sampai pada akhirnya saya bisa menguasai diri saya dan tidak menggunakan uang tersebut apapun yang terjadi(kecuali untuk hal-hal gawat darurat), barulah saya membuat ulang kartu dan mengaktifkan mobile banking.
Setiap orang akan memiliki keserakahan mereka sendiri. Maka anda harus bisa evaluasi diri dan menentukan batas. Saya tidak tahu anda serakah di mana, maka anda sendirilah yang harus evaluasi. Lalu jangan lupa, ketika orang serakah, itu karena mereka ingin mengisi kekosongan di dalam hati mereka. Hal ini bahkan sudah dikatakan dalam alkitab, Amsal 4: 23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Apa yang ada di dalam hati kita, akan terpancar keluar dan dari sana kita akan melihat sifat asli orang tersebut. Anda yang bisa mengevaluasi diri anda. Hal apa yang anda kejar bahkan tidak keberatan korbankan hal-hal lain? Itulah bibit keserakahan dalam hati anda.
Di dalam amsal, hati bisa dibentuk dan dididik. Tapi jangan lupa amsal mengatakan bahwa hati juga bisa jadi keras apabila dibiarkan(Amsal 28: 4) dan hal tersebut akan membuat anda masuk ke dalam malapetaka. Jadi pada saya memulai artikel ini, ada orang ketagihan judi dan selingkuh, itu terjadi karena mereka ingin mengisi sesuatu di hati mereka dan saat mereka isi, mereka merasa tidak cukup. Maka seperti yang diperingatkan Amsal 28: 4, mereka akan menemui malapetaka, entah apapun bentuknya. Ingatlah untuk selalu menjaga hati anda dan ketika anda bisa menjaga hati anda, buktikan sendiri dan lihatlah betapa baiknya perubahan kehidupan anda. Saya tidak menjamin hidup anda di permukaan akan terlihat lebih baik, namun saya jamin kedamaian akan selalu beserta anda.




Komentar
Posting Komentar